Lentera Yang Meredup Di Pelukan Kekuasaan:Sebuah Gugatan Cinta Untuk Sang Pewaris Nabi
Di tengah lautan kebingungan dan gelapnya akhir zaman, umat senantiasa mencari ufuk cahaya untuk menuntun mereka pulang kepada Tuhannya.
Cahaya itu bukanlah gemerlap istana, bukan pula janji manis para penguasa.
Cahaya itu sejatinya ada pada wajah-wajah teduh dan lisan yang teguh dari para ulama.
Mereka adalah pelita di tengah gulita, kompas di tengah badai.
Namun, apa jadinya jika pelita itu justru meredup karena dihembus angin kekuasaan?
Apa jadinya jika kompas itu kehilangan arah karena ditarik oleh magnet duniawi?
Tulisan ini bukanlah sebuah hujatan, melainkan sebuah tangisan dan kritik yang membangun. Sebuah pengingat bahwa ulama adalah penerang bagi umat, bukan penjilat negara dan pemimpin.
• Ulama: Sang Pewaris Para Nabi
Dalam tradisi Islam, kedudukan ulama begitu agung. Mereka bukanlah sekadar pembaca teks, melainkan pemegang estafet perjuangan para Rasul.
Rasulullah ﷺ bersabda dengan sangat jelas:
"Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham.
Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak."
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Warisan nabi bukanlah harta, apalagi kedudukan politik.
Warisan nabi adalah keberanian untuk menyuarakan kebenaran (Al-Haqq) walau pahit, membela yang tertindas, dan meluruskan yang bengkok.
Peran ulama adalah untuk mengajarkan serta mengamalkan ilmu yang dianugerahkan oleh Allah, lalu mengajak umat untuk kembali kepada jalan yang benar.
• Negara Bukanlah Tuhan, Presiden Bukanlah Nabi
Kita harus mengembalikan kewarasan teologis umat hari ini, Negara bukanlah Tuhan yang harus disembah tanpa daya kritis, dan Presiden bukanlah Nabi yang maksum (terpelihara dari dosa dan kesalahan).
Ketika seorang tokoh agama membenarkan segala tindakan pemimpin yang zalim, memoles kebijakan yang menyengsarakan rakyat dengan dalil-dalil agama, sesungguhnya ia sedang menggiring umat pada jurang kemusyrikan modern.
Mengikuti atau membenarkan kezaliman secara buta sama halnya dengan menyekutukan Tuhan, karena ia menetapkan ketaatan mutlak kepada makhluk hidup, padahal ketaatan mutlak hanya milik Allah ﷻ.
Hal ini sejalan dengan tafsir para ulama Sunni terhadap firman Allah ﷻ mengenai Bani Israil: "Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah..." (QS. At-Taubah: 31).
Sahabat Nabi, 'Adi bin Hatim (yang sebelumnya beragama Nasrani) kebingungan dan berkata, "Kami tidak menyembah mereka." Rasulullah ﷺ menjawab tegas: "Tidakkah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lalu kalian mengharamkannya?
Dan mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya?"
Itulah bentuk penyembahan kepada mereka.
Allah ﷻ secara spesifik dan tegas mengharamkan kita untuk condong dan mendukung penguasa yang zalim:
"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan."
(QS. Hud: 113)
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna "jangan condong (tarkanu)" adalah jangan mendukung, jangan membenarkan, dan jangan menjilat mereka dalam kezaliman yang mereka lakukan.
Jika rakyat biasa saja dilarang, lalu bagaimana dengan ulama yang seharusnya menjadi penjaga moral umat?
• Ketaatan Yang Bersyarat, Bukan Ketaatan Buta
Seringkali, oknum tokoh agama menggunakan mimbar dan dalil untuk membius umat.
Ketika negara membuat kesalahan dan pemimpin bertindak zalim, mereka menceramahi umat untuk "bersabar, bersyukur, dan harus mematuhi pemerintah."
Mereka berlindung di balik dalil:
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu..." (QS. An-Nisa: 59)
Benar, menaati pemimpin adalah ajaran syariat. Namun, para mufassir Sunni seperti Imam Ath-Thabari dan Ibnu Taimiyah memberikan catatan yang sangat tajam: Kata "Taatilah (Athi'u)" pada ayat tersebut diulang untuk Allah dan Rasul, tetapi tidak diulang untuk Ulil Amri.
Ini bermakna bahwa ketaatan kepada pemimpin adalah ketaatan yang bersyarat.
Pemimpin hanya ditaati jika ia berada di jalan yang benar dan tidak memerintahkan kemaksiatan apalagi kezaliman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq (Pencipta)."
(HR. Ahmad, sahih)
Janganlah karena diberi panggung, mendapatkan kepercayaan, gelar kehormatan, dan fasilitas dari masyarakat, para ulama justru melindungi kesalahan negara di balik pujian manis, janji manis, dan pakaian agama demi kepentingan politik serta isi kantong semata.
Itu adalah sebuah penghinaan terhadap agama, bentuk kemunafikan yang nyata, dan kemungkaran yang paling merusak.
• Ancaman Neraka Bagi Ulama Yang Menggadaikan Ilmunya
Bagi mereka yang tahu kebenaran namun diam, atau bahkan memelintir ilmunya demi penguasa, Allah ﷻ dan Rasul-Nya memberikan ancaman yang sangat mengerikan.
Mereka dihukum bukan karena tidak berilmu, melainkan karena ilmunya tidak diamalkan dan dijual demi dunia.
Dalam sebuah hadits sahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ mengabarkan tentang tiga golongan manusia yang pertama kali dijadikan bahan bakar api neraka pada hari kiamat.
Salah satunya adalah:
"Seorang laki-laki yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur'an. Ia didatangkan, lalu Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat-Nya... Allah bertanya: 'Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an demi Engkau.' Allah berfirman: 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar disebut sebagai 'orang alim' (ulama)...' Kemudian diperintahkan agar ia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka."
Allah ﷻ juga berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab, dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api neraka..." (QS. Al-Baqarah: 174)
• Hujjah Imam Al-Ghazali Tentang Ulama Su' (Ulama Buruk)
Imam Al-Ghazali, Hujjatul Islam, dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin, menorehkan tinta emas yang menampar realitas kita hari ini.
Beliau membagi ulama menjadi dua: Ulama Akhirat (penerang) dan Ulama Su' (ulama dunia/penjilat).
Dalam salah satu filsafat dan tegurannya yang sangat tajam, Imam Al-Ghazali merangkum kehancuran sebuah peradaban:
"Rakyat menjadi rusak karena penguasa yang rusak.
Penguasa menjadi rusak karena ulama yang rusak.
Dan ulama menjadi rusak karena cinta harta dan kedudukan (hubbud dunya).
Barang siapa yang hatinya telah tertawan oleh cinta dunia, ia tidak akan mampu memberikan peringatan kepada rakyat kecil, lalu bagaimana mungkin ia berani memberikan peringatan kepada para raja dan penguasa?"
Ulama yang merapat ke pintu penguasa hanya untuk mencari validasi dan materi, menurut Imam Al-Ghazali, telah menjatuhkan muruah (kehormatan) ilmu yang dititipkan Allah di dadanya.
Ilmu itu suci, tidak pantas ia tunduk pada kezaliman penguasa yang berlumur dosa.
• Penutup
Wahai para pewaris Nabi, kembalilah menjadi pelita.
Umat ini menangis merindukan fatwa-fatwa yang jujur, bukan fatwa pesanan.
Umat ini butuh bimbingan untuk bertakwa, bukan disuruh bungkam saat ditindas.
Penulis membuat tulisan ini sama sekali tidak untuk mendapatkan keuntungan materiel maupun politis dari pihak manapun.
Semuanya murni dedikasi untuk edukasi dan menunaikan kewajiban saling mengingatkan antarsesama muslim demi tegaknya keadilan dan kemuliaan agama ini.
Jika apa yang tertulis di sini benar, maka itu murni datangnya dari Allah ﷻ.
Namun jika terdapat kesalahan dan kekhilafan, itu mutlak datangnya dari kebodohan dan kelemahan diri saya sendiri.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Penulis : Noer Bin Matt


Komentar